KUPANG, KOMPAS.com - Pengamat hukum dari Universitas Nusa Cendana Kupang Dr Karolus Kopong Medan menilai polisi belum mampu membongkar sindikat pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) secara ilegal, khususnya dari Provinsi Nusa Tenggara Timur.
"Terungkapnya kasus penyekapan TKI ilegal asal NTT di Batam beberapa hari lalu menggambarkan bahwa polisi belum mampu membongkar sindikat pengiriman TKI ilegal di lapisan paling bawah sekalipun, terutama saat awal perekrutan calon-calon TKI ilegal dari daerah itu," kata Kopong, Sabtu (2/7/2011) di Kupang.
Ratusan tenaga kerja wanita (TKW) asal NTT dilaporkan mengalami penyiksaan di Batam oleh perusahan yang merekrut mereka secara ilegal. Paul Lein, warga NTT di Batam mengatakan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia telah menemukan empat dari 214 TKW yang direkrut perusahan itu dan dibawa ke Batam sudah meninggal dunia. Investigasi yang dilakukan Komnas HAM itu setelah warga NTT menggerebek lokasi penampungan para TKW asal provinsi kepulauan itu.
Menurut Kopong, kondisi NTT dengan topografi kepulauan dengan wilayah yang sangat luas membutuhkan kerja ekstra untuk menangani berbagai kasus kejahatan, seperti perdagangan orang serta penyelundupan manusia ke luar negeri. Hal ini disebabkan wilayah NTT yang demikian luas memberi ruang yang terbuka luas bagi sindikat kejahatan untuk melakukan aksinya dengan aman melalui jalur-jalur tidak resmi, terlebih melalui jalur darat dan laut. Apalagi kejahatan seperti ini dilakukan melalui sebuah jaringan yang terorganisasi dan tersistematis dengan sangat rapi mulai dari jaringan-jaringan lokal hingga jaringan internasional yang tidak mudah terdeteksi.
Karena itu, kata Kopong, ke depan polisi harus bekerja lebih profesional dan berada dalam tim yang solid untuk menangani berbagai kasus kejahatan di daerah ini, terutama yang berhubungan dengan sindikat pengiriman TKI ilegal. "Dengan demikian, kasus TKW di Batam tidak terulang lagi di masa datang karena polisi sudah bisa mencegahnya sejak awal mulai perekrutan," tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang