Tenaga kerja indonesia

Polisi Tak Mampu Bongkar Sindikat

Kompas.com - 02/07/2011, 09:40 WIB

KUPANG, KOMPAS.com - Pengamat hukum dari Universitas Nusa Cendana Kupang Dr Karolus Kopong Medan menilai polisi belum mampu membongkar sindikat pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) secara ilegal, khususnya dari Provinsi Nusa Tenggara Timur.

"Terungkapnya kasus penyekapan TKI ilegal asal NTT di Batam beberapa hari lalu menggambarkan bahwa polisi belum mampu membongkar sindikat pengiriman TKI ilegal di lapisan paling bawah sekalipun, terutama saat awal perekrutan calon-calon TKI ilegal dari daerah itu," kata Kopong, Sabtu (2/7/2011) di Kupang.

Ratusan tenaga kerja wanita (TKW) asal NTT dilaporkan mengalami penyiksaan di Batam oleh perusahan yang merekrut mereka secara ilegal. Paul Lein, warga NTT di Batam mengatakan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia telah menemukan empat dari 214 TKW yang direkrut perusahan itu dan dibawa ke Batam sudah meninggal dunia. Investigasi yang dilakukan Komnas HAM itu setelah warga NTT menggerebek lokasi penampungan para TKW asal provinsi kepulauan itu.

Menurut Kopong, kondisi NTT dengan topografi kepulauan dengan wilayah yang sangat luas membutuhkan kerja ekstra untuk menangani berbagai kasus kejahatan, seperti perdagangan orang serta penyelundupan manusia ke luar negeri. Hal ini disebabkan wilayah NTT yang demikian luas memberi ruang yang terbuka luas bagi sindikat kejahatan untuk melakukan aksinya dengan aman melalui jalur-jalur tidak resmi, terlebih melalui jalur darat dan laut. Apalagi kejahatan seperti ini dilakukan melalui sebuah jaringan yang terorganisasi dan tersistematis dengan sangat rapi mulai dari jaringan-jaringan lokal hingga jaringan internasional yang tidak mudah terdeteksi.

Karena itu, kata Kopong, ke depan polisi harus bekerja lebih profesional dan berada dalam tim yang solid untuk menangani berbagai kasus kejahatan di daerah ini, terutama yang berhubungan dengan sindikat pengiriman TKI ilegal. "Dengan demikian, kasus TKW di Batam tidak terulang lagi di masa datang karena polisi sudah bisa mencegahnya sejak awal mulai perekrutan," tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau